Minggu, 03 Desember 2017

Pemuda Dalam Lingkar Budaya Asing


Delapan puluh sembilan tahun peristiwaagung nan bersejarah tentang kepemudaan telah berlalu. tepatnya pada 28 oktober 1928 dimana pemuda berkumpul dan mengumndangkan sumpah pemuda, yang berbunyi bertanah air satu, tanah air indonesia, berbangsa satu, bangsa indonesia, berjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia. Tentunnya kejadian ini adalah sesuatu yang amat penting dalam sejarah kemerdekaan indonesia, kejadian yang menunjukkan semangat persatuan dari pemuda indonesia untuk mencapai kebebasan bangsa. Bagaimana dengan keadaan pemuda saat ini?
Kalau kita menyinggung mengenai pemuda, tentu kita semua akan selalu terhiang akan perkataan presiden pertama indonesia “ beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia (ir,soekarno)”. presiden soekarno berkata seperti itu tentu melihat dari berbagai pandangannya kepada pemuda pada masa kehidupannya, disaat para pemuda dengan gelora dan semangat dalam merebut kemerdekaan dan pembangunan awal bangsa. Tapi akankah pemuda zaman sekarang adalah pemuda yang disebut soekarno yang akan menguncang dunia, pemuda yang mempunyai semangat yang sama saat berjuang melawan penjajahan.Tentu saja pemuda zaman sekarang disaat indonesia sudah mencapai kemerdekaan tentunya berjuang untuk indonesia tidal perlu lagi mengunakan senjata api dan bambu runcing, karna pemuda tidak lagi melawan penjajahan fisik untuk membuat idonesia merdeka, tapi pemuda indonesia harus bisa melawan penjajahan bentuk baru, penjajahan di sektor ekonomi dan budaya.
Penjajahan di sektor ekonomii seperti indonesia dibuai oleh keindahan dari barang-barang  impor yang menindas produk-produk asli bangsa. Dan di sektor budaya , budaya-budaya kental yang asli dari indonesia sekian lama semakin di tinggalkan oleh para pemuda bangsa yang tergiur dan terhibur oleh budaya barat dan K-pop yang membius pemuda indonesia. Negara kita dahulunya begitu berwibawa dan mandiri, kini menjelma menjadi negara yang bergelimang produk impor dan pemuda yang semakin cinta akan budaya asing.
Tidak bisa kita pungkiri seiring perubahan zaman di masa globalisasi ini ke arah lebih modern. Maka sangat emunkinkan adanya pertukaran antar budaya di dunia. Akibatnya pemuda bangsa lebih memilih kebudayaan baru yang menurutnya lebih asik dan lebih praktis dibandingkan dengan budaya indonesia. Tentunya masukkan budaya asing membawa banyak pengaruh baik itu positif maupun negatif. Negara indonesia yang dikenal dengan kehidupannya yang ramah dan sopan, semua itu kemunkinan akan hilang diakibatkan para generasi penerus bangsa acuh tak acuh serta meniru budaya asing yang masuk ke indonesia tanpa filter , maka lambat laun kesopanan dalam berpakain dan moral dalam bergaul akan beransur-ansur berkurang dan menghilang.
Dulu dalam budaya kita sangat mementingkan dan membiasakan diri dalam berpakain yang sopan dan tertutup. Tetapi pada saat sekarang pemuda lebih memilih dan mencontoh gaya berpakain seperti budaya barat dan laksana girls band korea yang berpakain mengumbar-umbar aurat dan tidak mencerminkan kesopanan yang tinggi, hal ini seakan-akan sudah melekat pada diri prmuda bangsa , sehingga melupakan gaya berpakain indonesia yang sopan dan tertutup. Selain ini kalau kita melihat para pemuda dari segi cinta akan indonesia, cinta akan kebudayaan indonesiasangat lah miris, karna para pemuda penerus bangsa sering kali tidak suka dan menganggap kuno budaya dan kesenian lokal, para pemuda sekarang hanya akan tergiur oleh budaya dan kesenian asing, menagung-agungkan kesenian barat mencibir kesenian lokal. Pemuda hanya akan bergerak dan tergugh hatinya apabila budaya indonesia di ambil dan di klaim oleh bangsa ansing, seperti saat reog ponorogo di ambil malaysia, saat itu pemuda marah-marah, tapi setelah masalah itu selesai para pemuda kembali kepada sifat aslinya yang menganggap reog ponorogo hanya untuk orang tua serta tidak mau melestarikan budaya indonesia. Hal ini ditakutkan nanti kesenian asli dari indonesia akan menghilang bersamaan dengan meghilangnya para orang tua , diakibatkan kita pemuda yang malas melestarikan budaya kita sendiri, serta di zaman globalisasi paham-paham radikal akan mudah masuk ke indonesia dan mengerogoti moral bangsa karna budaya asli bangsa menghilang.
Dari pernyataan penulis diatas perubahan dinamis dan arus globalisasi sehingga menyebabkan pemuda saat ini kurang melihat keragaman dan keindahan dari bangsa indonesia. Tapi dalam tulisan ini penulis bukan berarti melarang pemuda indonesiauntuk berpergian ke luar negeri, menonton film, mendengar lagu-lagu barat, dan sebagiannya.tapi yang penulis maksud seharus nya kita sebagai pemuda haruslah memprioritaskan nilai kesopanan dalam keseharian dan mengutamakan budaya kita sendiri dibandig dengan budaya asing.
Seharusnya pemuda dalam zaman modern ini harus bisa mngambil hal positif dari globalisasi.pemuda dengan memafaatkan teknologi dan media sosial yang membuat dunia tanpa batas, dengan memafaatkan hal ini pemuda indonesia bisa memperkenalkan dan mensosialisasikan budaya bangsa kedunia internasional. Pemuda jangan malu untuk berkeriasi dan berinovasi di bidang senia dan budaya lokal. Dengan melestarikan kearifan lokal  maka secara tidak langsung pemuda sudah menjaga keutuhan NKRI. apabila hal ini sudah dilakukan oleh para pemuda bangsa maka orang asinglah yang datang berbondong-bontong ke indonesia bukan sebaliknya`selain dari diri pemuda, untuk menumbuhkan rasa cinta akan budaya indonesia di diri pemuda , juga harus ada dukungan dari pemerintah. Pemerintah indonesia haru menyadiakan ruang-ruang kreasi untuk para pemuda manampilkan kreatifitas dan inovasinya untuk budaya negeri. Pemerintah bangsa indonesia juga harus memperhatikan pendidikan para generasi penerus tombak kekuasaan bangsa, karna perlu kita ketahui bahwa “ melestarikan suatu budaya lebih sulit dari membuat budaya baru” begitulah ungkapan orang bijak. Maka untuk itu pemerintah harus bisa menumbuhkan rasa cinta akan budaya lokal pada diri para pemuda bangsa dengan cara memperbanyak acara kepemudaan disekolah maupun di lingkungan kampus, dan dari peringatan hari sumpah pemuda permerinth harus turun ke masyarakat dan melihat para pemuda yang terisolisir dan kurang disentuh oleh pendidikan

Jika pemuda sudah memiliki kecintaan dan ikut serta melestarikan budaya daerahnya, maka budaya tersebut akan tetap ada dari generasi ke generasi. Globalisasi tak seharusnya mengubah moran bangsa, tak sepantasnya modern harus umbar urat, tak semestinya budaya lokal di usirr oleh budaya asing. Maka pemuda sekarang harus lah lebih kreatif dan inovatif untuk budaya negeri serta memafaatkan teknologi dalam memperkenalkan budaya kita. Disini penulis mengajak bahwa apabila ada 100 pemuda pembangun negeri pastiak kamu salah satunya, namun ada apabila ada 10 pemuda penguncang duni niscaya kamu diantaranya, akan tetapi ada seorang pengubah dunia yakinlah bahwa itu adalah kamu.

penulis mahasiwa ilmu pemerintahan universitas jambi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar